Skizofrenia Paranoid Terjadi Akibat Fungsi Otak Terganggu

Pernahkah anda mengalami atau melihat keluarga anda merasakan hal seperti ini? Sebuah kondisi yang menyebabkan seseorang seolah kehilangan kepercayaan atas dirinya, perasaan takut pada sesuatu yang tidak nyata, kehawatiran, depressi, rasa curiga yang mendalam dan datang terus menerus. Munculnya halusinasi yang intens pada panca indera, seolah nyata dan terasa menyerang hingga muncul rasa takut yang tidak terkontrol.

Skizofrenia Paranoid adalah gangguan psikotik yang disebabkan oleh kelainan pada otak yang kemudian memunculkan kesalahan persepsi pada panca indera selanjutnya mengakibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Namun skizofrenia paranoid adalah suatu kondisi serius, sering seumur hidup yang dapat menyebabkan banyak komplikasi, termasuk perilaku bunuh diri.

Apa Penyebab Skizofrenia Paranoid?

Para ahli menyatakan bahwa penyebab pasti dari gejala skizofrenia paranoid masih belum diketahui dengan jelas. Meskipun para ahli percaya bahwa disfungsi otak memiliki peranan penting dalam munculnya gejala awal (onset) dari sebagian besar tipe penyakit ini, namun mereka tidak mengetahui penyebab pasti yang menginisiasi terjadinya disfungsi otak ini. Para ahli mengindikasikan bahwa faktor genetik dan lingkungan berperan secara bersama untuk mencetuskan timbulnya gejala.

Para peneliti mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan antara zat – zat kimia dalam otak berperan terhadap munculnya episode psikotik tahap awal yang jika berkelanjutan akan menjadi gejala skizofrenia paranoid. Faktor risiko yang meningkatkan terjadinya skizofrenia paranoid antara lain sebagai berikut:

  • Riwayat Keluarga Mengalami Penyakit Psikotik.
  • Terpapar Infeksi Virus Saat Dalam Rahim.
  • Malnutrisi Fetus (Janin).
  • Stress Di Awal Masa Anak – Anak
  • Kekerasan Fisik Maupun Seksual.
  • Penggunaan Obat Psikoaktif Selama Masa Remaja.

Gejala Skizofrenia Paranoid

Pasien sering menggambarkan kehidupan skizofrenia paranoid sebagai dunia yang terpisah – pisah (fragmented) dan penuh dengan kegelapan. Kehidupannya dibatasi oleh rasa curiga dan ketertutupan diri, dimana pasien akan merasa diikuti oleh suara dan bayangan – bayangan yang ingin mencelakakan atau berbuat jahat pada dirinya.

  • Halusinasi pendengaran, seperti mendengar suara-suara
  • Delusi, seperti percaya rekan kerja ingin meracuni anda
  • Kegelisahan
  • Kemarahan
  • Emosi datar
  • Kekerasan
  • Banyak berargumentasi (berdebat)
  • Merasa diri penting atau memandang orang lain rendah
  • Pikiran dan perilaku bunuh diri

Dari berbagai gejala di atas, dua gejala ini merupakan gejala utama dari skizofrenia paranoid:

Delusi (waham) Paranoid . Ketika mengalami skizofrenia paranoid, maka pasien akan merasa bahwa orang lain melakukan konspirasi untuk melawan dirinya. Karena pikiran paranoid yang makin menjadi ini, maka pasien cenderung untuk berperilaku agresif atau melakukan tindakan kekerasan sebagai mekanisme pertahanan dirinya melawan orang – orang atau hal – hal tertentu yang dipercaya ingin berbuat jahat pada dirinya. Pasien juga merasa memiliki kekuatan khusus seperti bisa bernapas di dalam air atau bisa terbang seperti burung. Pasien juga bisa merasa bahwa ia merupakan orang terkenal atau orang terkenal ingin berkencan dengan dirinya. Meskipun hal – hal tesebut tidaklah benar dan tak ada buktinya, namun pasien tetap memegang teguh kepercayaan tersebut.

Halusinasi Auditori. Contohnya saat pasien duduk di ruang keluarganya, kemudian ia merasa mendengar suara di dalam ruangan tersebut meskipun tidak ada orang lain yang mendengarnya. Pasien bisa merasa mendengar suara satu orang atau bisa juga merasa mendengar dua orang atau lebih yang sedang bercakap – cakap. Pasien merasa orang tersebut sedang membicarakan tentang dirinya dan kemudian mengkritiknya. Tiba – tiba pasien bisa saja mendengar adanya satu suara yang memerintahkan untuk melukai orang lain atau dirinya sendiri. Meskipun hal ini tidak nyata namun bagi pasien ini adalah realita.

Jika tidak diobati, skizofrenia paranoid bisa mengakibatkan trauma emosi, perilaku, kesehatan dan bahkan masalah hukum dan keuangan yang mempengaruhi setiap bidang kehidupan mereka. Komplikasi yang disebabkan oleh skizofrenia paranoid, meliputi:

  • Bunuh diri (pikiran dan perilaku)
  • Perilaku merusak diri sendiri
  • depresi
  • Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan atau obat resep
  • konflik keluarga
  • Ketidakmampuan untuk bekerja atau bersekolah
  • Gangguan kesehatan akibat obat antipsikotik
  • Menjadi korban atau pelaku kejahatan kekerasan

Langkah Pengobatan

Untuk melakukan pengobatan skizofrenia paranoid harus memiliki komitmen seumur hidup, sebab tidak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan umumnya sama untuk semua tipe penyakit ini, namun bisa bervariasi tergantung berat ringannya dan intensitas terjadinya gejala, riwayat kesehatan pasien, usia dan faktor individu lainnya yang berkaitan.

Pengobatan skizofrenia paranoid membutuhkan tim medis yang profesional. Strategi pengobatannya antara lain dengan satu atau beberapa pilihan terapi berikut ini: obat antipsikotik, psikoterapi untuk pasien dan keluarganya, perawatan di rumah sakit, Electroconvulsive Therapy (ECT) dan pelatihan pengembangan kemampuan bersosialisasi.

Agar bisa dilakukan intervensi psikoterapi dan non farmasi lainnya maka pertama – tama dokter harus bisa mengontrol gejala skizofrenia paranoidnya terlebih dahulu. Dokter bisa meresepkan satu atau lebih obat anti psikotik.

  • Obat Konvesional Atau Obat Antipsikotik

Jenis obat ini memiliki efek samping neurologis yang berpotensi untuk mengembangkan gangguan pada gerakan (Tardive Dyskinesia). Beberapa macam dari jenis obat ini, antara lain Chlorpromazine, Fluphenazine, Haloperidol (Haldol) dan Perphenazine. Selain itu, Anda juga dapat menggunakan obat antipsikotik yang dapat mengontrol tanda dan gejala dari penyakit skizofrenia dengan dosis serendah mungkin.

  • Obat Antipsikotik Atipikal

Ini merupakan jenis obat baru yang juga digunakan untuk mengatasi penyakit skizofrenia. Obat ini juga lebih banyak disukai karena memiliki risiko efek samping yang ditimbulkan lebih rendah daripada obat konvensional. Efek samping dari jenis obat ini antara lain menambah berat badan, menimbulkan penyakit diabetes dan kolestrol darah menjadi tinggi. Ada beberapa macam obat antipsikotik atipikal, misalnya Aripiprazole (Abilify), Clozapine (Clozaril, Fazaclo ODT), Olanzapine (Zyprexa) dan masih banyak lagi.

Agar obat bisa bekerja dengan efektif, pasien harus mematuhi anjuran dokter untuk mengkonsumsi obat sesuai dosis dan jadwalnya.

Ketidakpatuhan pengobatan merupakan masalah utama terhadap keberhasilan pengobatan dan pemulihan pasien dengan skizofrenia paranoid. Sejumlah besar pasien memilih untuk menghentikan pengobatannya selama tahun pertama pengobatan, sehingga menyebabkan gejala psikosis kembali dan menyebabkan kekambuhan penyakit tersebut.

Skizofrenia paranoid yang tidak diobati bisa memperburuk gejala dan menyebabkan pasien tidak bisa kembali ke dunia nyata. Pikiran dan tindakan ingin bunuh diri juga seringkali muncul. Jika anda menduga bahwa anggota keluarga anda mengalami tanda dan gejala skizofrenia paranoid maka segera ajak ke dokter psikiater untuk mendapatkan bantuan.