Kisah Henk Ngantung, Gubernur DKI Jakarta Yang Berasal Dari Seniman

Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dalam sejarahnya tidak hanya pernah dipimpin oleh gubernur yang berasal dari kalangan militer, politisi atau birokrat karir. Pusat pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ternyata dipimpin oleh seorang seniman, meskipun masa dari pemerintahannya singkat. Seniman tersebut bernama Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang disapa Henk Ngantung.

Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau Henk Ngantung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 1 Maret 1921. Orang tuanya bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Henk Ngantung mulai belajar melukis di usia 13 tahun, dan mulai memperdalam seninya ini di tahun 1937. Saat itu, ia menetap di Bandung, Jawa Barat.

Dengan bantuan sang guru, Rudolf Wengkart asal Austria, ia menunjukkan kejeniusannya dengan menggelar  pameran lukisannya di Manado pada tahun 1936 di umur 15 tahun. Hal ini ditunjukkan dengan bakat seni lukis yang ada pada dirinya.

Henk mulai berkenalan dengan pelukis ternama seperti Luigi Nobili dan Affandi yang tergabung dalam PERSAGI (Persatuan  Ahli-Ahli Gambar Indonesia), merupakan sebuah organisasi yang bertendensi nasionalis. Henk rutin mengikuti pameran lukis terutama sejak lembaga Bataviasche van Kunstkringen berdiri. Ketika penyerbuan Jepang ke Indonesia, Henk hijrah ke Jakarta.

Lukisan Henk yang mulai dikenal banyak orang, salah satunya di saat pameran tunggal di hotel Des Indes, Jakarta, tahun 1948. Lukisan ia bahkan menarik minat dari Presiden Pertama Indonesia, Bung Karno. Bahkan Ir. Soekarno menjadikan beberapa karya Henk sebagai koleksi lukisannya.

Sketsa lukisan Henk dikenal karena kepiawaian ia dalam mengilustrasikan berbagai peristiwa dari sejarah penting yang terjadi di Negara Republik ini. Perundingan Linggarjati dan Perundingan Renville telah menjadi dokumentasi lukisannya.

Setelah revolusi kemerdekaan, Henk tetap menekuni bidangnya dengan menjadi guru pembimbing seni bagi beberapa mahasiswa tanpa dibayar. Ia juga sering berpartisipasi dalam misi-misi kebudayaan  dan pameran lukis di luar negeri.

Henk juga turut serta mendirikan ‘Gelanggang’ bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani. Kiprahnya di bidang seni telah membuatnya dipercaya sebagai  pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok tahun 1955 hingga 1958. Dengan bakat seni lukisnya yang luar biasa, ia juga pernah menjadi Ketua Seksi Dekorasi dalam Panitia Negara Penerimaan Kepala-Kepala Negara Asing pada tahun 1957.

Henk dipilih menjadi Wakil Gubernur (Wagub) pada tahun 1960 mendampingi Soemarno oleh Bung Karno. Meskipun awalnya penunjukkan ini mengalirkan protes dari berbagai pihak karena dianggap tidak layak dalam menduduki jabatan tersebut, tapi Bung Karno tetap teguh pada keputusannya tersebut. Bung Karno ingin Jakarta dapat tumbuh sebagai kota seni dan budaya. Tentu saja Henk dianggap melewati kualifikasi tersebut.

Walaupun ada yang memprotesnya, namun pengangkatan Henk sebagai Wagub DKI didukung oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini didukung karena Henk telah bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada PKI. Ia bahkan pernah menjabat Wakil Sekjen Lekra.

Di masa jabatan Henk sebagai wakil gubernur, ia merancang monumen dan simbol yang sekarang menjadi ciri khas dari kota Jakarta, seperti Tugu Selamat Datang dan lambang DKI Jakarta. Pembangunan Tugu Selamat Datang, tidak lepas dari digelarnya pesta olahraga Asian Games pada tahun 1962. Saat itu, Bung Karno ingin ‘memoles’ kota Jakarta agar menjadi kota yang layak bagi digelarnya sebuah event internasional.

Pemerintah pun juga membangun sebuah hotel kelas internasional dengan fasilitas yang sangat bagus untuk tamu-tamu negara yang menjadi peserta Asian Games. Hotel tersebut dinamakan Hotel Indonesia (kini menjadi Hotel Kempinski). Bung Karno juga ingin membangun sebuah monumen tepat di depan hotel tersebut sebagai simbol untuk menyambut tamu negara.

Disinilah Henk mulai menunjukkan keahliannya. Ia membuat lukisan sketsa sepasang pemuda-pemudi yang sedang melambaikan tangannya, seperti sedang menyambung kedatangan tamu. Bung Karno pun meminta pembangunan tugu tersebut dari konsep Henk

Tugu kokoh itupun dibangun dan hingga kini dinamakan sebagai Tugu Selamat Datang. Sebgai tambahan, pematung yang merealisasikan konsep Henk menjadi patung di tugu tersebut adalah Edhi Sunarso, seorang pematung berbakat pada masa tersebut.

Henk diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1964 menggantikan Soemarno yang ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri oleh Bung Karno. Namun sangat disayangkan masa jabatannya sangat singkat yakni hanya 1 tahun. Hal ini dikarenakan terjadinya peristiwa Gerakan Satu Oktober tahun 1965.

Tragedi Gestok tahun 1965 telah mengubah alur hidup Henk dan keluarganya berubah secara drastis. Kedekatannya dengan Bung Karno serta PKI membuatnya harus digolongkan sebagai pejabat ‘kiri’ oelh berbagai pihak penguasa militer pasca Gestok.

Seperti halnya beberapa Gubernur dari provinsi lainnya di Indonesia yang diberhentikan, bahkan ada beberapa yang diculik karena kedekatannya dengan Bung Karno serta dukungan PKI. Henk diberhentikan dari jabatan Gubernur DKI Jakarta setelah peristiwa Gestok atau yang dikenal Gerakan 30 September.