Gejala Beserta Faktor Penyebab Terjadinya Depresi

Depresi adalah gangguan mental yang setiap orang pasti mengalaminya. Banyak dari kita kebingungan untuk membedakan antara depresi, stress dan kesedihan. Belum lagi membedakan beberapa jenis dari depresi, misalnya unipolar depression, biological depression, manic depression, seasonal affective disorder, dysthymia dan lainnya. Ada begitu banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan tentang depresi.

Para peneliti dari University of Granada melakukan analisa dari 29 studi sebelumnya, di mana mereka melihat perubahan dalam sel responden yang mengalami depresi dan setelah menjalani pengobatan anti depersi lalu membandingkannya dengan responden yang sehat. Secara khusus, peneliti melihat tingkat malondialdehid, yaitu penanda biologis dalam tubuh yang menunjukkan kerusakan sel dan stres oksidatif menemukan hubungan antara depresi dan peningkatan kadar senyawa. Sementara itu diketahui pula bagaimana depresi dan stres oksidatif saling berkaitan dan terhubung.

Stres oksidatif sendiri terjadi ketika tubuh berjuang keras untuk membersihkan radikal bebas, yaitu molekul yang dapat mengubah protein, lipid dan DNA dalam tubuh secara negatif dan memicu sejumlah penyakit. Sebelum pengobatan, orang yang depresi memiliki tingkat malondialdehid yang tinggi, rendahnya tingkat antioksida dan asam urat yang menjadi tanda stres oksidatif. Dengan kata lain, temuan ini menunjukkan bahwa Depresi “harus dianggap sebagai penyakit sistemik,” menurut para peneliti, hal ini bisa menjelaskan hubungan antara depresi dan penyakit lainnya seperti penyakit kardiovaskular sehingga depresi bisa menjadi awal segala macam penyakit.

Penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan yang jelas antara kesehatan hubungan yang jelas antara kesehatan mental seseorang dan kondisi fisiologis. Depresi sangat mungkin berhubungan dengan peradangan dan menjadi penyakit genetik. Walau begitu, studi terbaru lain yang diterbitkan dalam jurnal Health Affairs, menemukan dokter sering kali tidak menindak lanjuti pasien depresi layaknya pasien dengan kondisi kesehatan lain seperti diabetes atau asma. Padahal penelitian menunjukkan bahwa depresi tak bisa disepelekan.

Apa penyebab depresi? Tidak ada penyebab pasti dari depresi. Hal ini biasanya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor. Banyak faktor yang dapat memicu depresi, termasuk genetika, biologi dan kimia otak serta peristiwa kehidupan seperti trauma, kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang gagal, pengalaman anak usia dini atau situasi stres.

Gejala fisik dari depresi

1. Gangguan pencernaan

Sakit perut kerap ditemukan pada orang-orang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan, terutama pada anak-anak dan remaja biasanya ada kaitannya dengan urusan akademis atau hubungan dengan teman-teman mereka. Namun orang dewasa yang menderita depresi juga sering bermasalah dengan pencernaannya, misalnya mual dan diare. Sejumlah gangguan pencernaan seperti penyakit Crohn dan colitis (radang usus besar) juga dapat diperburuk oleh stres dan depresi.

2. Sakit kepala

Sakit kepala penyebabnya beragam dan terkadang bisa jadi pertanda terjadinya depresi. Meski terlihat biasa saja, orang yang mengalami depresi kerap kali melapor jika sakit kepala yang dialaminya cenderung memburuk di pagi dan malam hari. Jenis sakit kepalanya pun cenderung muncul ketika seseorang merasa tertekan, otot leher dan kulit kepalanya cenderung menegang. Mereka mungkin tidak menyadarinya dan sering mengalami nyeri kepala.

3. Susah tidur

Depresi membuat seseorang susah tidur atau sering terbangun di tengah malam dan tak bisa tidur lagi. Namun apabila susah tidurnya terjadi lebih dari dua minggu, maka Anda tampaknya perlu mulai berpikir apakah ini berkaitan dengan gangguan emosional yang mungkin Anda alami atau tidak.

4. Sakit punggung

Ada hubungannya antara seberapa baik cara seseorang mengurus dirinya sendiri dengan gejala depresi yang dialaminya. Orang yang depresi cenderung malas berolahraga dan kurang fokus pada kebiasaan makan yang sehat. Saat itulah mereka akan cenderung lebih sering mengalami nyeri fisik, terutama di punggung, otot-otot atau persendian. Dan jika seseorang sebelumnya sudah menderita nyeri kronis, maka depresi hanya akan memperburuk kondisinya.

5. Kelelahan

Kelelahan dan depresi saling mempengaruhi satu sama lain. Saking eratnya hubungan keduanya, sampai tak bisa dibedakan mana yang datang terlebih dulu, depresinya atau kelelahannya. Itulah mengapa ketika seseorang berhasil mengatasi gangguan kecemasan dan depresinya, maka mereka merasa begitu hidup dan berenergi,” imbuhnya.

6. Selera makan berubah

Perubahan selera makan menjadi salah satu gejala depresi karena orang-orang kerap menggunakan makanan untuk mengatasi tekanan emosional dan kesedihan yang dirasakannya. Waspada jika perubahan selera makan itu berlangsung lebih dari beberapa minggu. Konsultasikan pada dokter untuk mengetahui apakah ini ada hubungannya dengan depresi atau gangguan kesehatan lainnya atau bahkan keduanya.

7. Berat badan naik-turun

Berat badan yang naik turun dapat dikaitkan dengan perubahan pola makan dan tingkat aktivitas. Terkadang orang yang depresi menghabiskan waktunya untuk tidur bahkan hingga 12 jam perhari sehingga mereka jadi tak begitu aktif karena itu berat badan mereka naik. Sebaliknya, apabila selera makannya berubah dan kurang makan maka dipastikan berat badannya akan turun. Perhatikan jika berat badan Anda naik dan turun tanpa ada alasan yang jelas karena ini bisa jadi gejala depresi, meski tak menutup kemungkinan adanya pengaruh gangguan kesehatan lainnya.

8. Dada Nyeri

Apabila Anda mengalami dada nyeri, segera cari pengobatan yang tepat, pasalnya dada nyeri bisa jadi gejala serangan jantung atau gangguan kesehatan serius lainnya, termasuk gangguan mental atau emosional. Dada nyeri kerap kali dikaitkan dengan serangan panik yang menunjukkan adanya masalah kecemasan pada seseorang.

Padahal ketika seseorang mengalami serangan panik, ia tahu-tahu bisa mengalami palpitasi jantung dan sesak nafas, seperti halnya ketika terjadi serangan jantung. Hal ini dapat dipastikan dengan pemeriksaan dokter. Jika dokter menyimpulkan bahwa dada nyeri Anda bukanlah indikasi serangan jantung atau gangguan lainnya, bisa jadi itu karena depresi.

Depresi dapat memicu tindakan bunuh diri

  • Berbicara tentang tindakan bunuh diri atau tindakan merugikan diri sendiri lainnya.
  • Mengaku putus asa atau merasa terjebak.
  • Merasa dekat dengan kematian.
  • Bertindak ceroboh, seolah-olah mereka memiliki keinginan untuk mati (misalnya menerobos lampu merah).
  • Menelepon atau mengunjungi orang untuk mengucapkan selamat tinggal.
  • Mengatakan hal-hal seperti “semua orang akan merasa lebih baik tanpa aku” atau “aku ingin pergi”
  • Perubahan tiba-tiba dari pribadi yang sangat tertekan menjadi pribadi yang tenang dan bahagia.
  • Terlihat sengsara, mata menangis, alis berkerut dan mulut cemberut.
  • Kemerosotan postur tubuh, berkurangnya kontak mata dan ekspresi wajah.
  • Gerakan tubuh tidak banyak dan ada perubahan pada nada bicara (misalnya suara lembut dan cenderung menggunakan kata-kata monosilabik).
  • Suram, pesimis, pasif, lesu, tertutup, kritis terhadap diri dan orang lain serta senang mengeluh.

Bagaimana cara menangani depresi?

Orang yang mengalami depresi biasanya sembuh lebih cepat dengan bantuan dan dukungan dari orang lain. Anda harus membicarakan kondisi Anda kepada anggota keluarga dan teman-teman sembari melakukan beberapa tips di bawah ini:

  • Patuhi rencana pengobatan buat Anda.
  • Anda harus mencoba untuk tidak melewatkan setiap pemeriksaan atau dosis obat bahkan ketika gejala berhenti. Pastikan Anda mengonsumsi antidepresan sesuai anjuran.
  • Pelajari informasi seputar depresi. Dorong keluarga Anda untuk belajar mengenai depresi untuk membantu mereka memahami dan mendukung Anda. Dengan memahami kondisi Anda, mereka dapat membantu Anda untuk menghindari pemicu dan memotivasi untuk tetap pada rencana pengobatan.
  • Hindari konsumsi alkohol dan narkoba.
  • Konsumsi makanan sehat, aktif secara fisik dan tidur cukup untuk memastikan kebugaran tubuh.
  • Buatlah catatan dalam jurnal. Anda dapat mengekspresikan rasa sakit, marah, takut atau emosi lainnya melalui tulisan.
  • Temukan support group, kelompok konseling dan kelompok lainnya untuk membantu meringankan depresi.
  • Pelajari cara untuk bersantai dan mengelola stress, seperti meditasi, relaksasi otot progresif, yoga dan tai chi.
  • Jangan membuat keputusan penting ketika Anda sedang dalam kondisi di bawah. Hindari pengambilan keputusan ketika Anda merasa tertekan, karena Anda mungkin tidak berpikir dengan jernih. Walaupun merupakan kondisi serius, depresi tetap dapat diobati.

Nah, saya sudah memberitahu apa saja cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah depresi dan apa saja penyebab depresi pada dasarnya. Jika Anda mendapatkan masalah, usahakanlah untuk selalu berpikir positif dan mudah berprasangka buruk. Pikiran yang selalu positif akan membuat Anda terhindar dari depresi. Semoga artikel ini berguna dan bermanfaat bagi Anda ya (^_^) (*_*)