Inilah Jenis Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan objek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.

Manusia senantiasa mengembangkan daya khayalnya untuk menciptakan variasi aktivitas demi mendapatkan kenikmatan seksual. Dari sinilah timbul istilah kelainan seksual, meskipun ini bersifat subyektif karena apa yang disebut kelainan bagi seseorang, bisa jadi merupakan kegiatan normal bagi yang lain dan bisa mengidap siapa saja. Sebabnya bisa saja trauma di masa lalu karena pernah mengalami kekerasan seksual atau salah pergaulan.

Berikut jenis penyimpangan seksual :

1. Pedofilia

Orang dewasa terutama pria yang mencari kontak fisik dan seksual dengan anak-anak prapubertas yang tidak mau berhubungan dengan mereka. Sekitar dua pertiga korban kelainan ini adalah anak-anak berusia 8 – 11 tahun. Kebanyakan pedofilia menjangkiti para pria, namun ada pula kasus wanita berhubungan seks secara berulang dengan anak-anak. Kebanyakan kaum pedofilia mengenali korbannya, misalnya saudara, tetangga atau kenalan. Kaum pedofilia dikategorikan dalam tiga golongan yakni di atas 50 tahun, 20-an hingga 30 tahun dan para remaja. Seremnya lagi sebagian besar mereka adalah para heteroseksual dan kebanyakan sudah menjadi ayah.

2. Sadomasokis

Pelaku mendapat kepuasan seksual dari rasa sakit. Rasa sakit akibat kekerasan verbal atau non-verbal yang sengaja disebabkan oleh diri sendiri atau disebabkan oleh pasangan. Kata-kata kasar dan makian merupakan kepuasan seksual bagi si pelaku.

Aktivitas seksual yang dilakukan sering kali menyerempet bahaya. Misalnya, mencekik hingga tubuh mencapai kondisi kekurangan oksigen dengan tujuan mencapai orgasme. Tindakan memukul, mengiris, gigitan, diikat, mencekik, bahkan dicambuk yang berbahaya justru menjadi kepuasan tersendiri bagi si pelaku. Biasanya sudah ada kesepakatan diantara pasangan tersebut untuk melakukan aktivitas seperti ini. Hingga pelaku jarang terjerat masalah hukum.

3. Voyeurisme

Pelaku penyimpangan seks ini mendapat kepuasan seksual dengan melihat diam-diam atau mengintip orang lain (baik sejenis kelamin atau tidak) yang sedang telanjang atau melakukan hubungan seksual. Kelainan ini disebut juga skopofilia. Anehnya, pelaku voyeurisme sama sekali tidak mengiginkan berhubungan seksual dengan orang yang diintip. Ia cuma berharap memperoleh kepuasan orgasme dengan cara masturbasi selama atau sesudah mengintip.

Berbeda dengan orang yang normal bahwa penderita voyeurisme sudah terpuaskan tanpa harus melakukan berhubungan badan. Nggak seperti anggapan orang, bahwa penderita voyeurisme tidak dapat dilekatkan kepada penggemar film dan pertunjukan porno, karena para pemain film itu dengan sengaja menghendaki dan menyadari bahwa mereka akan ditonton orang lain. Sebutan voyeurisme hanya berkaitan dengan intip-mengintip. Voyeurisme sejati tidak akan terangsang jika melihat seseorang yang tidak berpakaian dihadapannya. Mereka hanya terangsang dengan melakukan pengitipan. Dengan mengintip mereka mampu mempertahankan keunggulan seksual tanpa mengalami resiko kegagalan atau penolakan dari pasangan yang nyata.

4. Homo seksual dan Lesbian

homoseksual dan lesbian merupakan kecendrungan menyukai sesama jenis, homo seksual istilah untuk lelaki yang menyukai lelaki dan Lesbian untuk wanita yang menyukai wanita. Pengidap homo dan lesbi tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis justru mereka merasa bergairah jika melihat sesama jenis. Banyak yang mengatakan perilaku homo dan lesbi ini dapat menular melalui pergaulan, seseorang yang semula normal bisa saja menjadi penyuka sesama jenis jika sering bergaul dengan penyuka sesama jenis dan mudah terhasut.

5. Frotteurisme

merupakan kelainan seksual dimana pelakunya mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesekkan bagian tubuhnya ke orang lain di tempat umum seperti kereta, pesawat, bis, atau konser musik. Aksi gesek-menggesek ini biasanya dilakukan dengan tangan atau juga dengan alat kelamin yang dikenakan pada sembarang tubuh korban, termasuk pada area kelamin korban. Mayoritas pelakunya adalah laki-laki dan kebanyakan korbannya adalah perempuan, walau ada juga perempuan yang melakukannya kepada laki-laki atau laki-laki kepada sesamanya. Orang dewasa yang melakukannya ke anak kecil juga ada.

6. Transvestisme

Pola pakaian lawan jenis cukup bervariasi. Sebagian transvestisme menolak pakaian pria sama sekali dan menggunakan pakaian wanita sepanjang waktu. Sebagian lagi hanya menggunakan pakaian wanita kadang-kadang saja atau sering kali, sedangkan yang lain hanya memilih satu jenis pakaian saja. Sebagian penderita transvestisme memiliki kepribadian ganda satu pria dan satu wanita.

Biasanya kelainan ini bermula sejak anak-anak atau remaja. Seperangkat pakaian yang disukai dapat menjadi benda yang merangsang nafsu seksualnya. Awalnya dipakai pada saat masturbasi dan saat melakukan persetubuhan. Yang dikenakan mula-mula hanya terbatas cross-dressing (hanya mengenakan BH dan celana dalam) lama-kelamaan mengenakan pakaian wanita lengkap cross-dressing total. Yang terakhir dilakukan ketika si penderita mulai merasa mampu berdikari sekitar masa remaja sampai dewasa muda.

Frekuensi kejadiannya makin lama makin meningkat dan akhirnya menjadi kebiasaan. Seiring dengan bertambahnya usia, kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan seksual melalui cara ini dapat berkurang atau bahkan hilang. Walaupun ada kalanya sejumlah kecil transvestit muncul pada usia lebih lanjut yang menghendaki mengenakan pakaian wanita dan hidup sebagai wanita secara tetap. Dalam kasus terakhir ini transvestisme berubah menjadi transeksualisme penderita ingin berganti kelamin, menjadi seperti lawan jenis dan tidak lagi mendapat kepuasan seksual hanya dengan cross-dressing.

7. Onani dan massturbasi

Nah, ini dia yang sering dilakukan para remaja Onani atau masturbasi sebenarnya berdefinisi sama, yaitu merangsang alat kelamin sendiri baik dengan tangan maupun alat bantu sehingga mencapai kepuasan seksual atau sampai keluar cairan. Ada yang berpendapat bahwa sebutan onani khusus untuk praktek begituan yang dilakukan laki-laki, sedangkan masturbasi adalah sebutan praktek begituan untuk kedua jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Sekian artikel saya tentang Jenis Penyimpangan Seksual, semoga bermanfaat ^^