Fakta Menyeramkan Pasukan Elite Sparta

Nyaris tidak banyak orang yang tahu apa itu Sparta, meski telah disebutkan jika Sparta adalah salah satu kota di era Yunani kuno. Namun setelah film ‘300’ meledak di dunia perfilman, kota Sparta yang menuai decap kagum. Sparta dikenal sebagai negara pemegang kekuatan militer yang tidak pernah bisa dibandingkan di jamannya oleh negara manapun, kemiliteran Yunani kuno dibawah kekuasaan Sparta. Mereka tidak pernah bekerja, semua tugas makanan dan lain-lain dikerjakan oleh budak-budak yang mereka peroleh dari wilayah yang telah mereka kalahkan. Pengawasan budak-budak agar tidak kabur pada saat bekerja di serahkan pada anak remaja Sparta.

Sparta tercata sangat handal dalam hal peperangan bahkan di eranya Sparta hampir tidak bisa ditandingi dalam hal peperangan. Mereka seolah dilahirkan di Yunani untuk berperang. Hal tersebut pula yang coba diangkat dalam film ’300’ meski beberapa diantaranya berbeda dari fakta, namun sebenarnya ada sejumlah kisah yang memang mengerikan tentang pasukan Sparta. Nah, inilah 5 fakta kengerian pasukan Sparta yang buat para musuhnya ketar-ketir.

1. Hanya Bayi Sempurna Yang Diizinkan Untuk Hidup

Bangsa Sparta adalah orang-orang terpilih karena sejak lahir mereka hanya akan merawat bayi-bayi terbaik saja. Sejak hari pertama tiba di dunia, bayi-bayi Sparta akan diperiksa oleh petugas khusus untuk dicari apakah memiliki kecacatan. Mereka yang tidak mencapai standard akan ditinggalkan begitu saja. Bayi malang yang tidak terpilih ini akan ditinggalkan begitu saja di lembah. Pada akhirnya, mereka akan tewas dengan sendirinya atau jika beruntung mungkin akan ada seseorang yang lewat dan mengadopsinya.

Bayi yang terpilih juga tidak aman begitu saja. Mereka akan dimandikan dengan anggur untuk menguji ketahanannya serta sering kali tidak dipedulikan saat menangis. Mereka juga diperintahkan agar tidak takut dengan dokter atau takut sendirian. Ketegasan yang keras ini ternyata sangat dicari oleh bangsa lain hingga wanita Sparta selalu diinginkan sebagai istri atau pengasuh anak.

2. Sudah Dilatih Secara Militer Sejak Usia 7 Tahun

Anak-anak Sparta selanjutnya akan dimasukkan dalam program pendidikan bergaya militer. Di usia 7 tahun, latihan keras untuk menjadi prajurit terbaik dimulai. Anak-anak akan diambil dari rumah orang tuanya untuk mengikuti latihan berat yang diprakarsai oleh pemerintah ini. Jauh dari orang tua, mereka akan diajari bersosialisasi, berperang, menyelinap, berburu dan berlatih fisik.

Di usia 12 tahun, mereka tidak akan diberi pakaian kecuali sehelai jubah merah dan dipaksa untuk tidur di luar dan membuat tempat tidur sendiri dari kain ini. Agar lebih siap dalam kehidupan, mereka juga dipersilakan untuk mencuri makanan agar bisa bertahan hidup, tapi jika sampai ketahuan, hukuman cambuk siap menunggu mereka. Mereka juga akan didorong untuk berlatih berkelahi yang makin keras seiring dengan bertambahnya usia mereka. Bahkan gadis-gadis Sparta didorong untuk mengolok-olok beberapa prajurit tertentu agar mereka mau bangkit dan meningkatkan kemampuannya.

3. Berkelahi Dengan Budak

Pada usia 18 tahun mereka akan melakukan latihan yang lebih berat. Mereka diharuskan untuk bertarung sampai mati dengan budak. Apabila Spartan berhasil memanangi peperangan mereka akan membawa pulang budak untuk menjadi patner latihan mereka. Membunuh budak adalah sesuatu yang legal disana. Spartan akan dibekali dengan sebilah pisau. Biasanya mereka dikelompokkan atau tak jarang pula sendiri. Prajurit-prajurit muda ini biasanya akan berburu mangsanya ketika malam hari. Meskipun memiliki misi menghabisi budak, namun hal tersebut bukanlah hal mudah. Budak juga biasanya mempersiapkan diri mereka dengan senjatanya masing-masing.

4. Pernikahan Dianggap Sebagai Proses “Menghasilkan Pasukan”

Masyarakat Sparta sama sekali tidak melarang hubungan romantis dan cinta. Tapi pernikahan dan memiliki anak adalah hal yang juga menjadi urusan budaya dan pemerintah. Negara menyebutkan bahwa pria sebaiknya menikah di usia 30 sementara wanita usia 20. Karena semua pria harus tinggal di barrack militer sampai usia 30, mereka yang menikah sebelum usia tersebut tidak boleh hidup bersama istrinya sampai tugas militernya selesai di usia tersebut.

Bangsa Sparta umumnya memandang pernikahan sebagai cara untuk menghasilkan pasukan baru. Karena itulah warga disarankan untuk mempertimbangkan kesehatan dan kekuatan pasangannya sebelum memutuskan untuk menikah. Bahkan suami yang tidak bisa memiliki anak akan diminta untuk mencari pengganti yang bisa menghamili istri mereka.

5. Tidak Ada Kata Menyerah

Bangsa Sparta tertulis sebagai bangsa yang sangat terpandang dan disegani. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari kengerian pasukan Sparta dalam bertempur, bahkan bangsa Sparta tidak mengenal kata menyerah.Pasukan Sparta diharapkan bertarung tanpa rasa takut dan harus bertahan hingga prajurit terakhir berdiri. Menyerah dalam pertempuran dipandang sebagai sifat pengecut dan ksatria yang menurunkan pedangnya dengan sukarela akan merasa sangat malu hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri.Ketika seorang Sparta tewas dalam pertempuran, ia dianggap telah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang warga negara. Bahkan hukum mengatakan bahwa hanya ada dua jenis orang yang namanya boleh ditulis di nisan, yaitu wanita yang meninggal karena melahirkan dan pria yang tewas dalam pertempuran.

Melihat betapa hidup mereka benar-benar hanya didedikasikan untuk bertempur, wajar jika Sparta menjadi salah satu pasukan yang ditakuti. Dengan latihan brutal yang sudah dimulai sejak kecil dan terus ditempa hingga dewasa, tidak heran mereka menjadi sosok yang sangat tangguh.