Fakta Shunga, Majalah Esek – Esek Jepang

Bagi Anda yang menyukai budaya Jepang, pasti Anda telah familiar dengan komik-komik erotis atau biasa disebut hentai atau doujin. Nah, ternyata nih seni rupa yang memperlihatkan sisi erotis manusia telah dikenal oleh masyarakat Jepang sejak zaman kuno. Seni rupa erotis di Jepang kuno berawal dari sebuah benda yang disebut dengan Shunga. Hmm, apa sih Shunga itu?

Shunga bagi masyarakat Jepang Kuno adalah salah satu bentuk seni rupa. Namun bukan hanya sebuah karya seni rupa biasa loh. Dalam bahasa Jepang, Shunga berarti gambar musim panas. Di Jepang, musim panas adalah salah satu lambang untuk seks. Berarti dapat disimpulkan bahwa Shunga adalah sebuah karya seni yang khusus dibuat untuk menunjukkan seks.

Bentuk Shunga macam-macam juga loh gays. Pada awal kemunculan Shunga, media yang digunakan adalah gulungan kain atau kertas. Namun kebanyakan Shunga yang dibuat pada zaman tersebut terbuat dari potongan kayu yang digambar. Namun meskipun gambar-gambar Shunga adalah gambar-gambar yang erotis, para pembuat shunga masih tetap digolongkan sebagai seorang pekerja seni loh.

Hal ini dikarenakan pembuatan Shunga disebut sebagai salah satu pergerakan untuk mengekspresikan kehidupan masyarakat urban. Selain itu, walaupun pada pembuatan Shunga diperuntukkan untuk kalangan atas atau Shogun, Shunga ternyata juga bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat Jepang di zaman Edo. Buku yang berisi ilustrasi esek-esek ini disebut sebagai majalah panas pertama Jepang yang sangat melegenda. Berikut penjelasan selengkapnya.

Awal Mula Munculnya Shunga Di Jepang

Shunga pertama kali muncul di zaman Edo sekitar abad ke-17 hingga ke-19. Di masa itu, tidak memakai pakaian di pemandian campur adalah hal yang biasa. Pria dan wanita bisa memandang satu sama lain tanpa dilarang. Itulah mengapa hal-hal berbau dengan erotisme semakin menyebar dan salah satu bentuk produknya adalah shunga.

Shunga adalah sebuah seni lukis pada kertas yang dilakukan dengan mesin cetak kuno hitam dan putih. Kertas ini akhirnya dikumpulkan dan dijadikan buku baru dijual ke banyak orang. Shunga sendiri memiliki arti lukisan musim semi. Dalam masyarakat Jepang, musim semi selalu erat hubungannya perumpamaan hubungan badan.

Ketenaran Shunga Mulai Menanjak Dari Tahun ke Tahun

Shunga sebenarnya sudah ada beberapa puluh tahun sebelum zaman Edo datang. Lukisan yang ada pada kertas pun terinspirasi dari pelukis yang berasal dari dataran Tiongkok jauh. Bahkan ada yang menyebut jika lukisan yang ada pada Shunga terinspirasi dari buku manual pengobatan Tiongkok yang mempertontonkan lukisan polos manusia beserta anatominya.

Sekitar tahun 1660-an Shunga benar-benar menyebar ke seluruh pelosok Jepang hingga membuat Shogunnya jadi gerah. Akhirnya terjadi larangan besar-besaran dalam peredaran majalah kuno ini. Namun karena banyak yang berminat, regulasi apa pun akan tetap bisa dilanggar hingga sesuatu berbau tidak benar ini masih saja menyebar.

Jenis – Jenis Shunga 

Shunga yang beredar di masyarakat Jepang merupakan seni lukisan dengan gaya ukiyo-e. Biasanya gambar akan dicetak dengan papan kayu secara manual satu per satu. Gambar yang ditampilkan pun berisi seputaran adegan ranjang dari para pribumi atau pun wanita penghibur. Biasanya Shunga yang beredar di masyarakat memiliki tiga jenis isi sesuai dengan permintaan.

Pertama adalah adegan percintaan antara pria dan wanita dewasa. Selanjut ada juga gambar percintaan pria dewasa dengan pria dewasa, dan terakhir wanita dengan wanita. Oh ya, di zaman dahulu, hubungan sesama jenis dianggap biasa. Sebagai bukti, saat itu muncul kagema yang merupakan pemain kabuki muda berpakaian wanita. Pria ini kerap disewa para petinggi yang berkuasa di Jepang.

Fungsi Utama Shunga Yang Beredar Di Zaman Edo

Shunga memiliki fungsi yang berbeda-beda di zaman itu. Bagi para pria dewasa, shunga adalah hiburan yang bisa mengusir penat setelah bekerja seharian. Selanjutnya bagi para pria muda, Shunga adalah alat untuk belajar hal-hal berbau hubungan ranjang. Para gadis bangsawan pun juga menggunakan shunga untuk mengetahui anatomi dan cara berhubungan badan yang benar.

Fungsi lain dari shunga adalah untuk memberikan keselamatan. Ya, di masa itu banyak orang percaya jika menyimpan Shunga akan memberikan pengaruh baik. Rumah yang menyimpan shunga akan terhindar dari mara bahaya yang tak diinginkan. Mungkin inilah salah satu penyebab Shunga jadi susah hilang dari masyarakat walau telah dilarang.

Mulai Punah Dan Bertransformasi Di Era Modern

Memasuki abad ke-20, kepopuleran dari Shunga mulai habis karena kalah dengan potret yang lebih realistis. Teknologi membuat mereka tak bisa bertahan di tengah masyarakat. Meski punah dan tak diproduksi lagi, shunga akhirnya bertransformasi menjadi manga yang saat ini banyak kita nikmati bersama-sama. Gambar-gambar dalam kertas akhirnya memiliki cerita yang lebih baik hingga akhirnya dibuat menjadi anime. Ketenagarn Shunga yang telah hilang akhirnya tumbuh kembali dengan apa yang dinamakan dengan hentai. Gambar ilustrasi yang menampilkan adegan ranjang dan ketidaknormalan kembali dipakai untuk menghidupkan shunga yang telah melegenda.

Itulah fakta panas tentang Shunga yang merupakan majalah esek-esek pertama Jepang. Meski akhirnya punah, Shunga justru bertransformasi menjadi manga dan anime yang kerap kita lihat setiap hari. Indonesia ada enggak ya majalah seperti ini di zaman kerajaan, Majapahit mungkin?