Penjelasan Mengenai Mati Suri

Setiap orang mungkin sudah pernah mendengar tentang mati suri. Ketika seseorang sudah menemui ajalnya, seluruh anggota tubuh dan organ-organ dalam tubuhnya tidak akan bisa berfungsi kembali. Namun ada beberapa kejadian di mana seseorang yang sudah dinyatakan meninggal kemudian hidup kembali. Kejadian seperti inilah yang disebut mati suri.

Fenomena mati suri merupakan fenomena yang menarik bagi para ilmuwan dan peneliti karena fenomena ini merupakan satu-satunya jalan bagi mereka dan manusia secara umum untuk mengetahui apa yang terjadi setelah kematian. Meski fenomena mati suri merupakan sesuatu yang unik, akan tetapi ternyata sebanyak 4% – 15% manusia di dunia pernah mengalami yang namanya mati suri. Terlebih dengan meningkatnya teknologi medis zaman sekarang yang semakin memungkinkan dokter untuk “membawa kembali” seseorang dari ambang kematian sehingga fenomena mati suri pun semakin banyak terdengar.

Penjelasan Mati Suri Secara Ilmiah

Para peneliti mempelajari gelombang otak pasien yang tengah sekarat, ditemukan adanya sebuah lonjakan aktifitas listrik sesaat sebelum para pasien tersebut meninggal. Dokter dari pusat kesehatan universitas George Washington percaya bahwa lonjakan listrik ini adalah penyebab fenomena mati suri, dimana para pasien melihat diri mereka berjalan menuju cahaya atau melayang keluar dari raga mereka.

Banyak pasien yang mengalami sensasi ini percaya mereka mempunyai penglihatan religi dan menganggapnya sebagai kehidupan pasca kematian. Beberapa pasien bahkan melaporkan melihat kembali tokoh tokoh religi seperti Yesus, Muhammad atau Krishna. Yang lain mengatakan mereka diliputi rasa damai saat mereka berjalan menuju terowongan penuh cahaya.

Namun para dokter ICU di George Washington mempunyai penjelasan lain yang telah dipublikasikan dalam jurnal kedokteran paliatif. Sebuah tim yang dipimpin Dr. Lakhmir Chawla menggunakan electroencephalograph (EEG), sebuah alat yang merekam aktivitas otak pada tujuh pasien dengan kondisi penyakit fase terminal yang diberi sedasi penghilang nyeri.

Penelitian Lebih Lanjut

Sebuah studi baru mengenai kronologi mati suri ini mendapati bahwa tidak semua orang mengalami urutan langkah-langkah sama, yang bisa membantu menyingkirkan hubungan kompleks antara neurologi dan budaya di ambang hidupnya. Studi ini didasarkan pada 154 tanggapan survei responden dan narasi yang dikumpulkan melalui International Association for Near-Death Studies and the Coma Science Group. Responden dipilih menggunakan skala Greyson NDE, sebuah metrik yang dikembangkan oleh Bruce Greyson, seorang psikolog asal Amerika Serikat

Skala ini dirancang untuk memberikan struktur dan konsistensi dalam mengevaluasi pengalaman yang diingat oleh pasien saat mengalami perhentian jantung. Istilah Near Death Experience (NDE) atau mati suri muncul pada tahun 1975 saat psikolog bernama Raymond Moody menggunakannya untuk menggambarkan apa yang disebut dengan ‘menengok dunia lain’. Namun kini, cerita mati suri hampir bersifat klise. Cahaya terang, terowongan, dan emosi positif sudah menjadi hal yang biasa didengar mengenai pengalaman mati suri. Tahapan ini pun dianggap sebagai gambaran singkat dari kehidupan setelah kematian.

Jenis Kematian

Tanatologi berasal dari kata thanatos(yang berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian yaitu definisi atau batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).

  • Mati somatis(mati klinis) ialah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada ketiga sistem utama tersebut yang bersifat menetap. Pada kejadian mati somatis ini secara klinis tidak ditemukan adanya refleks, elektro ensefalografi (EEG) mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara napas tidak terdengar saat auskultasi.
  • Mati seluler (mati molekuler) ialah suatu kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ tidak bersamaan.
  • Mati serebralialah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.
  • Mati otak(mati batang otak) ialah kematian dimana bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.

Bagaimana Seseorang Bisa Mengalami Mati Suri?

Beberapa hal di bawah ini bisa menjelaskan kenapa mati suri bisa terjadi pada seseorang.

  • Terkait Dengan Fase Tidur

Salah satu kemungkinan penyebab terjadinya mati suri adalah fase tidur Rapid Eye Movement (REM) atau fase nyenyak, yaitu ketika seseorang mengalami mimpi. Fase ini melibatkan adanya kelumpuhan otot utama, sistem pernapasan yang berjalan lebih cepat dan cepatnya gerakan mata. Saat fase ini mengalami gangguan, maka seseorang mungkin mengalami kelumpuhan sementara saat bangun dari tidur.

Hal lain yang mungkin terjadi adalah adanya halusinasi penglihatan atau pendengaran selama masa peralihan dari tidur menuju kondisi terjaga atau sebaliknya. Pada kasus mati suri, otak kemungkinan mencampurkan kondisi tidur dan kondisi terjaga secara sekaligus. Normalnya, fase ini akan dibedakan secara mendetail sehingga jelas mana saat seseorang terjaga atau tidur. Beberapa ciri utama yang dirasakan mereka yang mengalami mati suri juga mirip dengan adanya gangguan fase REM ini. Misalnya saja perasaan dikelilingi cahaya, merasa terpisah dari diri sendiri, dan tidak mampu bergerak meski merasa sadar.

  • Dihubungkan Dengan Gas Karbondioksida

Penelitian yang mengaitkan hal ini menyatakan bahwa adanya gas CO2 kemungkinan memberikan pengaruh pada keseimbangan kimia tubuh seseorang. Ketika keseimbangan kimia di otak seseorang mengalami gangguan, maka hal tersebut mungkin memengaruhi otak sehingga yang mengalaminya seperti melihat cahaya, terowongan, atau kematian seseorang. Pengalaman mati suri yang terkait dengan adanya gas CO2 sendiri didapatkan dari para pasien yang selamat dari serangan jantung. Orang yang mengalami serangan jantung memiliki konsentrasi CO2 berlebih dalam napas yang dihembuskan juga terkait level CO2 dan kalium dalam darah.

Pasien yang selamat dari serangan jantung dan mengalami mati suri memiliki beberapa kesamaan pengalaman. Mereka biasanya merasakan berada di dalam balutan cahaya, melihat dan mendengar peristiwa nyata dari sudut yang lain, serta bertemu dengan orang-orang yang dicintai yang sudah meninggal. Kejadian mati suri yang dialami oleh orang-orang yang selamat dari serangan jantung diyakini terkait dengan terhentinya fungsi otak setelah 20-30 detik terhentinya jantung. Saat sadar, mereka ternyata mampu menjelaskan hal-hal terkait kejadian yang terjadi di sekitarnya dalam tiga menit setelah jantung berhenti.

Kedua penjelasan di atas masih belum menjawab sepenuhnya bagaimana fenomena mati suri bisa terjadi. Meski pada kesimpulan-kesimpulan di atas berusaha netral dari sisi spiritual seseorang, namun hal tersebut ternyata banyak mengubah cara pandang mereka setelah mengalami peristiwa mati suri.

Bagaimana Pengalaman Orang Yang Pernah Mengalami Mati Suri?

Memang tak sedikit orang yang pernah mengalami mati suri. Beberapa dari mereka menyebutkan bahwa ketika mereka mati seolah berada di suatu tempat yang cerah penuh cahaya, ada pula yang mengatakan bahwa mereka melihat keluar dari tubuhnya sendiri dan pergi ke suatu tempat. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 700 orang yang pernah mengalami mati suri menyebutkan bahwa mereka mengalami pengalaman yang positif sehingga dapat membuat mereka lebih religius lagi, lebih bahagia dan bahkan tidak takut mati.

Fenomena mati suri ini bagaimanapun masih mengandung banyak sekali misteri. Masih banyak yang perlu dijelaskan secara lebih ilmiah melalui penelitian yang berbasiskan pada ilmu pengetahuan karena hingga kini masih belum dipahami apakah pengalaman mati suri seseorang ini dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki oleh orang tersebut atau tidak.