Sering Rasakan Getaran Palsu Dari Ponsel? Simak Ulasannya

Bukan hal baru lagi, bila disebutkan ponsel telah menjelma sebagai kebutuhan primer hampir sebagian besar orang di dunia termasuk Indonesia. Mungkin hampir semua pengguna smartphone pernah mengalami kejadian dimana handphone kita seakan-akan sedang bergetar, seperti yang biasanya diaktifkan kala kita mendapatkan notifikasi dari bermacam aplikasi mobile yang tertanam di gadget. Padahal setelah kita cek, ternyata tidak ada notifikasi yang dimunculkan.

Nah, itu adalah sebuah kondisi psikologis yang bernama Phantom Vibration Syndrome (PVS), dimana kita sebagai pengguna handphone sedang berhalusinasi bahwa piranti genggam milik kita itu seolah-olah bergetar.

Penelitian PVS

Para ahli psikologi pun menyebut PVS sebagai bentuk gangguan kecemasan di era teknologi serba canggih ini. Namun menurut Dr. Robert, hal tersebut lebih disebabkan oleh adaptasi dan respon tubuh terhadap teknologi. Dr Robert mengimbau bagi mereka yang kerap mengalami PVS untuk tidak terlalu khawatir. Kecuali jika gangguan ini sudah terlalu sering sehingga memengaruhi kualitas hidup mereka, maka perlu sedikit diwaspadai.

Begitu banyaknya orang yang mengalami sindrom ini, membawa peneliti tertarik menganalisa mengapa PVS bisa terjadi. Menurut analisa mereka, ponsel telah ‘melatih’ tubuh untuk menanggapi bahwa sensasi apapun yang dirasakan pada seluruh tubuh sebagai panggilan masuk telepon. Mengecek ponsel setiap waktu kini sudah menjadi sebuah kebiasaan, disadari atau tidak. Hal itu diungkapkan Dr. robert Rosenberg dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat dalam studinya mengenai dampak teknologi terhadap perilaku manusia.

Menurutnya kini ada kecenderungan para pengguna ponsel sangat khawatir terlambat menerima panggilan masuk atau pesan teks sehingga tubuh jadi terbiasa mendeteksi sensasi apapun di tubuh sebagai notifikasi dari ponsel. Padahal mungkin saja hanya disebabkan adanya pergerakan urat syaraf. Seringkali bahan pakaian yang tersibak atau kejang otot ringan juga dikira sebagai notifikasi getar yang datang dari ponsel. Reaksi ini lebih kurang mirip seperti seseorang yang memakai kacamata bantu penglihatan. “Kalau Anda sudah ketergantungan pada kacamata dan sudah menjadi bagian dari diri Anda, Anda terkadang sampai lupa saat itu sedang memakai kacamata. Ponsel yang ditaruh di kantung baju pun demikian,” jelas Dr Robert,

Ponsel yang dibawa kemanapun Anda pergi, bahkan ke toilet sekalipun juga dikenali otak sebagai bagian dari tubuh Anda. Tubuh pun terlatih untuk mengenali getaran dari ponsel sebagai dering panggilan masuk atau teks. PVS pertama kali diidentifikasi pada era 90-an, yaitu ketika sedang maraknya penggunaan pager. Namun belakangan sindrom tersebut meningkat jumlahnya akibat makin banyaknya orang yang memakai smarpthone. Dengan banyaknya aplikasi dan social media yang di-instal di dalam smartphone maka notifikasi pun semakin banyak dan makin besar kemungkinan sindrom ini lebih sering terjadi.

Kenapa kita merasa HP bergetar padahal sebenarnya tidak?

Terlalu sering menggunakan barang-barang elektronik, khususnya yang berhubungan dengan komunikasi, menyebabkan pengiriman sinyal yang salah kepada neuron yang berada di sekitar kantung baju, kantung celana, dan bagian tubuh lain yang biasa berdekatan dan menempel dengan HP. Ini membuat neuron tersebut bingung membedakan apakah itu benar getaran handphone atau sinyal lain. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa hal ini terjadi dimulai dari perasaan khawatir akibat tidak bisa mengecek barang-barang elektronik mereka.

Professor Rosen menyimpulkan bahwa perilaku Anda dapat mempengaruhi sinyal-sinyal neuron yang akan dikirimkan ke otak. Tubuh Anda selalu menunggu atau mengantisipasi berbagai jenis interaksi teknologi, yang biasanya memang datang dari smartphone. Dengan “antisipasi” kekhawatiran akan bunyi HP dari otak Anda ini, bila Anda mendapat atau melakukan apapun yang dapat “membangunkan” saraf Anda, misalnya kalau celana panjang Anda terlalu ketat hingga menggesek kaki Anda, neuron Anda bisa jadi selalu menerjemahkan reaksi neuron itu adalah akibat telepon Anda bergetar, padahal sebenarnya otak Anda salah mengartikan apa penyebabnya akibat kekhawatiran di otak Anda.

Cara Untuk Mengatasinya

Sindrom ini memang sedikit mengganggu, namun kita sebenarnya tidaklah perlu terlalu khawatir. Tapi, jika sindrom ini sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, maka kita perlu untuk lebih waspada. Solusinya, kita harus bisa membiasakan tubuh kita untuk mengirimkan respons yang normal agar kita tidak lagi merasakan getaran-getaran palsu yang bisa mengakibatkan terganggunya aktivitas kita sehari-hari.

Yang pertama perlu kita lakukan untuk mengurangi sindrom ini adalah mengurangi penggunaan handphone secara sedikit demi sedikit. Tidak usah terlalu ekstrim. Cukup dengan menguranginya dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Tidak membawa handphone ke toilet, misalnya. Mulailah untuk terfokus ke orang-orang di sekitar kita juga dan tidak menyibukkan diri sendiri dengan smartphone yang ada dalam genggaman.

Jika fenomena ini sering terjadi pada Anda, tetapi Anda tidak terganggu, berarti bukan masalah. Namun, hal ini menjadi masalah ketika Anda mulai terganggu dengan khayalan ponsel bergetar atau mendengar nada dering ponsel. Apa lagi bagi Anda yang setiap hari merasakan phantom vibration ini. Untuk Anda yang terganggu, Anda bisa memulai menjauhkan ponsel dari tubuh Anda.

Bukan berarti membatasi penggunaan smartphone, tetapi Anda cukup menyimpan ponsel pada tas atau dompet Anda, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tubuhCara lain yang bisa menjauhkan Anda dari phantom vibration adalah mengubah ponsel jadi mode diam saja agar tidak merasakan getaran. Anda juga bisa lebih sering mengubah nada dering agar tidak merasakan pemberitahuan ‘hantu’ tersebut.